(pasangan Bayu-Kang Musa saat pengocokan dan mendapatkan nomor urut 2/fotoIst)
Bogor– Mengenal lebih dekat sosok Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bogor, Musyafaur Rahman atau akrab di sapa Kang Musa, yang menjadi pendamping Calon Bupati (Cabup) Bogor, Bayu Syahjoan, di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bogor, yang bakal dihelat pada 27 November 2024 mendatang.
Kang Musa, yang identik dengan penampilan sederhana saat blusukan ditengah-tengah masyarakat. Diketahui memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pergerakan mahasiswa 1998 di era reformasi. Beliau juga kerap menggelar aksi parlemen jalanan (Demontrasi) yang tergabung dalam Forum Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ).
Bersama tokoh aktivis Nasional, Adian Napitupulu, Kang Musa juga terlibat dalam pendampingan warga korban Sutet di wilayah Kabupaten Bogor. Bukan itu saja, sejumlah persoalan yang erat kaitannya dengan kepentingan rakyat pun tak luput dari sorotannya.
“Kepekaannya terhadap kondisi masyarakat tentunya sudah terasah. Sehingga ketika memimpin Kabupaten Bogor, tak diragukan lagi siap melayani dan pro rakyat. Tentu itu terlihat dari 12 program kerja yang telah di rumuskan untuk kepentingan masyarakat,”ungkap Acil Wahyudin, Ketua Umum (Ketum) Relawan Bayu-Musa (Bamus) Center, Kabupaten Bogor, belum lama ini.
Dari dunia pergerakanlah perjalan hidup Kang Musa jadi lebih berwarna. Singkatnya, setelah lulus kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer, Cawabup Bogor lahiran Jakarta 8 Desember 1978 tersebut, menjejaki dunia pewarta. Karirnya pun terbilang moncer dari wartawan, menduduki jabatan Pemimpin Redaksi (Pimred) hingga mendirikan Majalah RuangFilm.
Tak berhenti disitu, putaran waktu pun mengantarkan Kang Mus pada kursi jabatan Komisaris di beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahan plat merah itu antara lain, Damri, Indah Karya dan Petro Kimia Kayaku.
“Semakin lengkap perjalanan Kang Musa setelah beliau juga mendirikan Lembaga Kajian Ekonomi Indonesia Economic and Development Studies (IEDS). Dan beliau pun sempat jadi staff dari Anggota DPR RI Adian Napitupulu,”beber Acil Wahyudin.
Kesuksesan perjalanan Kang Musa, menurut Acil Bamus, sapaan akrabnya, menilai tidak terlepas dari doa orang tua dan kerja keras. Gemblengan dunia pondok pesantren pun menjadi salah satu iklim yang telah membentuk figur Kang Musa, menjadi sosok yang religius.
“Kang Musa menjadi manusia yang religius, ahli komputer, memahami bagaimana tata kelola perusahaan, sadar politik juga memiliki keberpihakan yang sangat kuat kepada kepentingan rakyat. Jadi Saya rasa pasangan Bayu-Kang Mus cocok untuk memimpin Kabupaten Bogor,”seloroh Acil, sambil mengacungkan dua jari.
Yah, Kang Musa lahir dari rahim seorang Ibu yang berprofesi sebagai Guru Agama. Pun ayah Kepala Sekolah disalah satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Jadi sejak kecil tumbuh dengan balutan pendidikan agama. Lulus dari SD Negeri Susukan 08 Pasar Rebo, Kang Musa pun melanjutkan ke MTSN Purwosari. Di waktu bersamaan beliau pun menjadi santri Pesantren Al Hikmah, Purwosari, Kediri.
Di pesantren itu Kang Musa di gembleng oleh KH. Zaimudin Badrus Sholeh, Ibu Nyai Hj. Noer Cholidas Badrus, KH. Abdul Nasir Badrus Sholeh, KH. Ahmad Dain Arief Badrus Sholeh dan KH Mohammad Yahya Badrus Sholeh.
Lalu Kang Musa juga memperdalam ilmu keagamaanya di Ponpes Salafiyah Al-Huda Ngadasimo, Kediri, dibawah asuhan KH. Ahmad Shodaqoh Zarkasyi sekaligus menamatkan pendidikan formalnya di MAN 3 Kediri.
Kini ikhtiar politik tengah dijalan Kang Musa, menjadi pasangan Cabup Bogor nomor 2 Bayu Syahjohan, guna mewujudkan cita-cita Kabupaten Bogor, lebih makmur dan sejahtera. Duet Bayu-Kang Musa sendiri diusung secara tunggal oleh PDI Perjuangan.
Sedangan pesainganya, pasangan calon nomor urut 1, Rudy Susmanto- Ade Ruhandi (Jaro Ade) diusung oleh koalisi 7 partai politik parlemen mau pun non parlemen.
Asep Rendra







